|
|
|
|
|
|
Legenda Ki Rangga Gading Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Alkisah, hiduplah seorang pemuda bernama Ki Rangga Gading yang sangat sakti. Ia bisa mengubah wujudnya dan sering menyalahgunakan kesaktiannya untuk mencuri, seperti mencuri lima kerbau di siang hari dan membalikkan jejak kakinya untuk mengelabui warga. Karena kesaktiannya, ia menjadi sombong. Suatu hari, ia mendengar kabar tentang tanah keramat di desa Karangmunggal yang mengandung emas. Rangga Gading terbang ke desa tersebut menggunakan pelepah kelapa setelah memotongnya. Sesampainya di sana, ia menjelma menjadi kucing untuk lolos dari pengawal dan menggali tanah emas. Dalam perjalanan pulang, ia beristirahat di tempat sepi dan menaburkan segenggam tanah curiannya, yang kemudian dinamakan Salawu (sarawu atau segenggam). Kemudian, ia menggantungkan karungnya di dahan pohon, yang kini dikenal sebagai Kampung Karanggantungan (tanah Karangmunggal digantungkan). Ketika ia merasa lelah lagi, ia mandi di sebuah mata air dan menggantungkan karungnya, namun karung itu terus berayun-ayun sehingga tempat itu dinamakan Kampung Guntal Gantel (berayun-ayun). Tanpa disadari, seorang kakek tua sakti yang merupakan seorang guru memerhatikan Rangga Gading. Kakek itu menghampirinya dan bertanya mengapa ia mencuri. Rangga Gading dengan sombong menjawab bahwa ia tidak akan mengembalikan tanah itu karena kesaktiannya. Ia juga bertanya siapa kakek itu dan bagaimana ia mengetahui namanya. Kakek itu bertanya mengapa Rangga Gading menggunakan kesaktiannya untuk hal yang tidak baik. Rangga Gading merespons dengan tidak acuh, namun sebelum menyelesaikan kalimatnya, ia terjatuh dan badannya lumpuh, merasakan sakit yang luar biasa pada sendinya. Rangga Gading meminta ampunan dan berjanji tidak akan menyalahgunakan kesaktiannya lagi. Kakek itu memintanya menjadi murid untuk meluruskan jalannya. Rangga Gading belajar dengan tekun di perguruan kakek tersebut, tidak hanya ilmu kesaktian tetapi juga ilmu akhlak. Kakek sakti bangga dan berpesan agar Rangga Gading menggantikannya sebagai pemimpin perguruan setelah ia wafat. Rangga Gading menjadi pemimpin yang berhasil membuat perguruan itu terkenal dan banyak murid, mengubah citranya dari pencuri menjadi orang sakti yang suka membantu. Konon, perguruan itu dikenal sebagai Pesantren Guntal-Gantel dan suatu hari tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi. Para ulama dan santri yang sedang tidur berubah menjadi kodok, dan tempat itu dinamakan Bangkongrarang (tanah yang dibawa dari karang dan loba bangkong, yang berarti banyak katak). Bangkongrarang juga dikenal angker. Kini, Guntal-Gantel dan Bangkongrarang terlihat sebagai tumpukan pasir di tengah sawah luas yang menjadi tempat terlarang. Dipercaya, burung yang melintasinya akan jatuh dan mati. Saat bulan puasa, bunyi bedug yang berasal dari lahan tersebut dapat terdengar di tengah malam, dipercaya sebagai bedug yang dipukul oleh santri Pesantren Guntal-Gantel pimpinan Rangga Gading.
Cerita ini berasal dari Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan latar tempat di wilayah Kecamatan Karangnunggal. Beberapa nama tempat dalam cerita ini, seperti Salawu, Kampung Karanggantungan, Kampung Guntal Gantel, dan Bangkongrarang, dihubungkan dengan kejadian dalam legenda ini.
Sumber: https://ilmukesaktian.blogspot.com/2022/07/legenda-ki-rangga-gading.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |