|
|
|
|
|
|
Miss Tjitjih Tanggal 31 Jul 2026 oleh Kyas1 . |
Miss Tjitjih adalah kelompok pementasan tradisional Sunda yang dinamai menurut aktris utama legendarisnya pada tahun 1920-an. Kelompok ini dikenal karena produksi teater komedi horor, beberapa di antaranya diadaptasi menjadi film seperti Beranak dalam Kubur dan Si Manis Jembatan Ancol. Selain itu, mereka juga mementaskan dongeng Sunda seperti Sangkuriang dan Lutung Kasarung, serta cerita Betawi seperti Macan Kemayoran, Golok Ciomas, Jawara Tak Dikenal, dan Banjir Getih di Rawa Bangke.
Sekitar 50 anggota pemeran generasi kedua dan ketiga tinggal di asrama dua tingkat di belakang gedung teater. Setiap keluarga dari 17 keluarga mendapatkan unit asrama berukuran 3.35 x 6.35 meter. Banyak aktor menjalankan pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti menjadi sopir, MC di resepsi pernikahan, atau bermain sebagai figuran dalam produksi film TV. Meskipun kekurangan penghasilan, para anggota bersyukur bahwa mereka tidak perlu mengemis untuk mendapatkan makanan.
Kelompok ini menghadapi tantangan besar untuk bertahan hidup. Pada masa jayanya di tahun 1970-an, mereka bisa tampil dua kali semalam dan menarik lebih dari 200 penonton. Namun, sejak Juli 2007, mereka hanya tampil maksimal dua kali sebulan, dengan jumlah penonton yang menurun drastis, seringkali hanya sekitar 50 orang, bahkan terkadang 16 orang. Untuk menarik penonton, mereka telah mempersingkat durasi pertunjukan dari empat hingga enam jam menjadi maksimal dua jam, serta mencampur bahasa Indonesia dan Betawi ke dalam naskah yang biasanya murni berbahasa Sunda. Kelompok ini juga pernah kehilangan teater mereka karena kebakaran pada tahun 1997, meskipun gedung tersebut direnovasi dan dibuka kembali pada tahun 2004.
Badan Kebudayaan dan Museum Jakarta mengalokasikan Rp 1,5 juta untuk setiap pertunjukan selama enam bulan terakhir, berkurang dari Rp 3 juta sebelumnya. Tanpa agen promosi, para anggota secara mandiri membuat dan mendistribusikan selebaran menggunakan sepeda motor ke daerah Cempaka Putih dan Senen. Mereka menyayangkan kurangnya apresiasi publik dan tokoh masyarakat setempat terhadap warisan tradisional ini.
Miss Tjitjih tampil pada hari Sabtu pertama dan ketiga setiap bulan pukul 20:00. Harga tiket adalah Rp 10.000.
Sumber: https://www.thejakartapost.com/news/2008/02/12/miss-tjitjih-theater-group-fights-survival.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |