×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Kalimantan Selatan

Asal Daerah

Banjar Batu Lantang, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung

Pura Luhur Kancing Gumi

Tanggal 12 Sep 2026 oleh Kyas1 .

Letak Pura

Pura ini terletak di banjar Batu Lantang, desa Sulangai, kecamatan Petang, Badung.

Pengelingsir Pura

  • Kelian Desa: I Made Sarka
  • Kelian Adat: I Gusti Nyoman Rai
  • Jro Mangku Pura Penataran Agung: I Made Catra
  • Jro Mangku Pura Luhur: J M I Made Murdiana lan Ni Putu Sudarmi
  • Jro Mangku Pura Entapsai lan Pura Desa Baleagung: J M Putu Cinta
  • Jro Mangku Puseh: J M I Nyoman Pasek

Piodalan / Pujawali / Petoyan

  • Petoyan Pura Luhur Kancing Gumi: Buda Umanis Prangbakat
  • Piodalan Pura Entapsai, Pura Desa lan Baleagung: Buda Umanis Prangbakat
  • Petoyan ring pura puseh: Anggara Kasih Julungwangi

Sejarah dan Mitologi

Keberadaan Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batu Lantang Desa Sulangai Kecamatan Petang Kabupaten Badung belum memiliki sumber-sumber yang meyakinkan dari sudut pandang ilmu sejarah mengenai kapan pura ini didirikan. Namun, Lontar Dewa Purana Giri Wana menguraikan tentang "kasuksman" keberadaan pura ini. Lontar ini mirip dengan Lontar Tantu Pagelaran yang menceritakan secara mitologi keberadaan gunung-gunung di Jawa sampai ke Bali. Dalam Lontar Dewa Purana Giri Wana diceritakan tentang Hyang Gunung Alas sebagai stana Lingga Pasupati yang telah ditumbuhi pohon-pohon rindang. Ketika masyarakat mendirikan padukuhan dan meratakan tanah untuk sawah ladang, mereka menemukan batu besar dan tinggi yang tingginya mencapai 15 depa dan tidak ditemukan pangkalnya. Batu ini dinamakan Sila Mangadeg (batu berdiri) dan wilayah tersebut dinamakan Batudawa atau Desa Adat Batu Lantang sekarang. Batu Lantang ini kemudian disebut Pura Kancing Gumi sebagai stana Tuhan dengan sebutan Hyang Gunung Alas, yang diyakini sebagai stana Lingga Pasupati. Lingga Pasupati ini adalah manifestasi Sang Hyang Siwa yang memiliki tiga wujud: Brahma, Wisnu, dan Iswara atau Rudra. Cerita Batu Lantang ini mirip dengan cerita Linggodbawa dalam beberapa Purana Bali, di mana Dewa Brahma dan Wisnu mencari ujung Lingga yang tiba-tiba muncul setelah mereka berselisih tentang penciptaan alam semesta. Keduanya tidak berhasil menemukan ujung Lingga tersebut, dan kemudian Dewa Siwa menjelaskan bahwa ketiga dewa tersebut adalah manifestasi Brahman dengan tugas berbeda (pencipta, pemelihara, pemralina). Penemuan batu panjang yang tidak berhasil dijumpai ujungnya ke bawah ini mungkin menjadi dasar penamaan tempat pemujaan ini sebagai Pura "Kancing Gumi".

Filosofi Pemujaan

Masyarakat Bali dikenal dengan sikap hidup yang memadukan nilai-nilai sekala dan niskala untuk membangun hidup yang seimbang. Dalam kehidupan agraris, aspek niskala selalu dijadikan pegangan untuk melengkapi upaya sekala. Membangun kesejahteraan lewat bertani dilakukan berdasarkan pertimbangan sekala (iklim dan cuaca) dan aspek niskala melalui pemujaan kepada Tuhan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental dalam menghadapi persoalan hidup sebagai petani yang bergantung pada alam, terutama pada zaman dahulu saat teknologi pertanian belum maju. Pemujaan kepada Tuhan dianggap penting untuk membangun sikap optimis. Masyarakat petani di wilayah Pura Kancing Gumi melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan sarana Lingga Yoni melalui simbol Sila Mangadeg (Batu Lantang). Perilaku religi ini, pada zaman Sekte Siwa Pasupata, menggunakan simbol Lingga Yoni sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesejahteraan agraris. Oleh karena itu, Pura Kancing Gumi menjadi media bagi umat sekitarnya untuk memohon karunia Tuhan, memberikan kemantapan dalam melakukan kegiatan sekala untuk menata kehidupan.

Sumber: https://pitarapitari.wordpress.com/sejarah-pura/kabupaten-badung/pura-luhur-kancing-gumi

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Pura Luhur Kanc...

Oleh Kyas1 | 12 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Letak Pura Pura ini terletak di banjar Batu Lantang, desa Sulangai, kecamatan Petang, Badung. Pengelingsir Pura Kelian Desa: I Made Sarka Kelian...

Pura Kawitan

Oleh Kyas1 | 12 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Pura Kawitan adalah tempat ibadah yang karakternya ditentukan oleh ikatan leluhur berdasarkan garis keturunan. Pura ini merupakan tempat p...

Puja Mandala

Oleh Kyas1 | 12 Sep 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Puja Mandala adalah sebuah kompleks peribadatan unik yang terletak di Nusa Dua, Bali. Kompleks ini menampilkan lima rumah ibadah dari agam...

Rujak Natsepa

Oleh Kyas1 | 12 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Rujak Natsepa adalah salah satu daya tarik kuliner di Pantai Natsepa, Ambon, Maluku. Rujak ini terkenal karena keunikan sambal kacangnya y...

Baju Cele

Oleh Kyas1 | 12 Sep 2026.
Pakaian Tradisional

Deskripsi Pakaian adat Maluku ini dikenal dengan nama baju cele atau kain salele. Pakaian adat ini sebenarnya terlihat cukup sederhana dan tidak ser...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...