|
|
|
|
|
|
Pura Luhur Kancing Gumi Tanggal 12 Sep 2026 oleh Kyas1 . |
Pura ini terletak di banjar Batu Lantang, desa Sulangai, kecamatan Petang, Badung.
Keberadaan Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batu Lantang Desa Sulangai Kecamatan Petang Kabupaten Badung belum memiliki sumber-sumber yang meyakinkan dari sudut pandang ilmu sejarah mengenai kapan pura ini didirikan. Namun, Lontar Dewa Purana Giri Wana menguraikan tentang "kasuksman" keberadaan pura ini. Lontar ini mirip dengan Lontar Tantu Pagelaran yang menceritakan secara mitologi keberadaan gunung-gunung di Jawa sampai ke Bali. Dalam Lontar Dewa Purana Giri Wana diceritakan tentang Hyang Gunung Alas sebagai stana Lingga Pasupati yang telah ditumbuhi pohon-pohon rindang. Ketika masyarakat mendirikan padukuhan dan meratakan tanah untuk sawah ladang, mereka menemukan batu besar dan tinggi yang tingginya mencapai 15 depa dan tidak ditemukan pangkalnya. Batu ini dinamakan Sila Mangadeg (batu berdiri) dan wilayah tersebut dinamakan Batudawa atau Desa Adat Batu Lantang sekarang. Batu Lantang ini kemudian disebut Pura Kancing Gumi sebagai stana Tuhan dengan sebutan Hyang Gunung Alas, yang diyakini sebagai stana Lingga Pasupati. Lingga Pasupati ini adalah manifestasi Sang Hyang Siwa yang memiliki tiga wujud: Brahma, Wisnu, dan Iswara atau Rudra. Cerita Batu Lantang ini mirip dengan cerita Linggodbawa dalam beberapa Purana Bali, di mana Dewa Brahma dan Wisnu mencari ujung Lingga yang tiba-tiba muncul setelah mereka berselisih tentang penciptaan alam semesta. Keduanya tidak berhasil menemukan ujung Lingga tersebut, dan kemudian Dewa Siwa menjelaskan bahwa ketiga dewa tersebut adalah manifestasi Brahman dengan tugas berbeda (pencipta, pemelihara, pemralina). Penemuan batu panjang yang tidak berhasil dijumpai ujungnya ke bawah ini mungkin menjadi dasar penamaan tempat pemujaan ini sebagai Pura "Kancing Gumi".
Masyarakat Bali dikenal dengan sikap hidup yang memadukan nilai-nilai sekala dan niskala untuk membangun hidup yang seimbang. Dalam kehidupan agraris, aspek niskala selalu dijadikan pegangan untuk melengkapi upaya sekala. Membangun kesejahteraan lewat bertani dilakukan berdasarkan pertimbangan sekala (iklim dan cuaca) dan aspek niskala melalui pemujaan kepada Tuhan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental dalam menghadapi persoalan hidup sebagai petani yang bergantung pada alam, terutama pada zaman dahulu saat teknologi pertanian belum maju. Pemujaan kepada Tuhan dianggap penting untuk membangun sikap optimis. Masyarakat petani di wilayah Pura Kancing Gumi melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan sarana Lingga Yoni melalui simbol Sila Mangadeg (Batu Lantang). Perilaku religi ini, pada zaman Sekte Siwa Pasupata, menggunakan simbol Lingga Yoni sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesejahteraan agraris. Oleh karena itu, Pura Kancing Gumi menjadi media bagi umat sekitarnya untuk memohon karunia Tuhan, memberikan kemantapan dalam melakukan kegiatan sekala untuk menata kehidupan.
Sumber: https://pitarapitari.wordpress.com/sejarah-pura/kabupaten-badung/pura-luhur-kancing-gumi
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |