|
|
|
|
|
|
Ronggeng Buyung Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Ronggeng Buyung adalah bentuk kesenian tradisional dari Indramayu, Jawa Barat, yang menampilkan seorang atau lebih penari perempuan dengan iringan gamelan dan nyanyian. Kesenian ini juga dikenal sebagai sintren, yang pada masa penjajahan Belanda digunakan oleh pemuda untuk menyampaikan pesan perjuangan. Meskipun berkembang di Indramayu, ada pandangan bahwa kesenian ini berasal dari daerah-daerah sekitar Pantai Utara Jawa Tengah seperti Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan, sebelum menyebar ke Indramayu, Kuningan, Cirebon, dan Cilacap.
Kelompok kesenian ronggeng buyung biasanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Penari utamanya, yang disebut sintren, adalah seorang gadis berusia sekitar 9-11 tahun atau belum pernah menstruasi, karena dianggap lebih mudah mengalami trance. Kelompok ini juga dapat meminjam pemain dari kelompok lain, terutama untuk pesinden lalugu, yaitu perempuan berusia lanjut dengan kemampuan tarik suara yang mengagumkan, bertugas membawakan lagu-lagu khusus.
Pertunjukan dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh dalang untuk mengundang roh halus memasuki tubuh penari, dengan menyediakan kemenyan, bunga-bungaan, dan minyak wangi. Alat pengiring ditabuh dengan lagu berirama dinamis. Penari, yang masih mengenakan pakaian biasa, berjongkok dan ditutup kurungan ayam berlapis kain batik. Selama di dalam kurungan, sinden menyanyikan lagu pemujaan berbahasa Jawa Indramayu, seperti "Turun-turun sintren". Setelah dalang menyatakan penari dalam keadaan trance, kurungan dibuka, dan penari yang telah berganti kostum tari Srimpi dengan kacamata hitam mulai menari diiringi lagu "Sulasi" dan "Tambak-tambak Pawon". Saat lagu "Tambak-tambak Pawon" selesai, penonton mulai nyawer dengan melemparkan saputangan atau kain berisi uang sambil meminta lagu dangdut. Dalang selalu berada di belakang penari saat nyawer, karena penari bisa terdorong dan pingsan. Untuk menyadarkannya, dalang mengarahkan asap kemenyan ke hidung penari. Lagu "Ayo Ngewer-ngewer Puntren" dibawakan saat nyawer dimulai. Ketika penonton sepi, dalang menyuruh penari berhenti, ditutup kurungan lagi, dan saat kurungan dibuka, penari kembali memakai pakaian sehari-hari namun masih tidak sadar. Dalang menyadarkan penari dengan asap kemenyan, menandai berakhirnya pertunjukan.
Kesenian tradisional ronggeng buyung tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga nilai-nilai seperti kerja sama, kekompakan, dan ketertiban. Nilai kerja sama terlihat dari kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya, sementara kekompakan dan ketertiban tercermin dalam kelancaran pementasan.
Sumber: https://uun-halimah.blogspot.com/2009/02/tari-ronggeng-buyung-indramayu-jawa.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |