|
|
|
|
|
|
Saiyang Pattuqduq Tanggal 27 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Saiyang Pattuqduq adalah sebuah tradisi di Tanah Mandar yang menjadikan kuda sebagai tunggangan dan akan menari saat mendengar alunan musik Parrawana. Parrawana adalah sekelompok orang yang memainkan alat musik rebana dengan berirama agar kuda-kuda yang mendengarkan musiknya menari. Dalam pertunjukan ini, kuda dihias sedemikian rupa agar terlihat cantik dan menawan, begitu pula dengan penunggangnya yang memakai pakaian adat Mandar. Kuda-kuda akan bergoyang-goyang kepalanya dan bergerak mengikuti alunan tabuhan para Parrawana. Di belakang penunggang kuda, ada satu orang yang berjaga-jaga manakala kuda sulit dikendalikan, serta satu orang yang memegang payung kehormatan untuk si penunggang. Sesekali, alunan suara tabuhan rebana diselingi dengan syair-syair yang dilantunkan oleh Pakkalindaqdaq, yaitu seseorang yang melantunkan syair-syair yang berisi nasihat tentang kehidupan.
Sejarah dimulainya tradisi ini tidak diketahui secara pasti pencipta dan pelaku pertamanya. Namun, ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Saiyang Pattuqduq dimulai pada abad ke-14 Masehi pada masa pemerintahan raja pertama Kerajaan Balanipa, di mana kuda digunakan sebagai sarana hiburan. Sumber lain mengatakan tradisi ini baru dimulai pada abad ke-16 saat Islam menjadi agama resmi di beberapa kerajaan di Mandar. Dahulu, berkuda sudah menjadi tradisi, dan keterampilan berkuda menjadi keharusan bagi putera bangsawan serta santri. Kemampuan membuat kuda patuh menjadi tolok ukur keberhasilan santri menamatkan pengajian. Karenanya, para santri melatih kuda untuk bergerak mengikuti alunan nada rebana dan senandung sholawat. Dari sinilah Saiyang Pattuqduq mulai berkembang dan dimainkan dalam upacara ritual yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam perkembangannya, Saiyang Pattuqduq menjadi tradisi untuk penamatan Al-Qur’an. Seorang anak yang telah menamatkan Al-Qur’an 30 Juz akan diarak menunggangi Saiyang Pattuqduq dan dibawa keliling kampung untuk disaksikan masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, fungsi Saiyang Pattuqduq juga semakin bergeser. Tidak hanya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan khatam Al-Qur’an, tetapi juga sering dilaksanakan untuk menyambut para tokoh-tokoh atau wisatawan yang berkunjung ke Tanah Mandar. Hingga sekarang, Saiyang Pattuqduq menjadi sebuah identitas kedaerahan.
Dalam atraksi Saiyang Pattuqduq, kuda akan bergoyang-goyang kepalanya dan bergerak mengikuti alunan tabuhan para Parrawana. Di atas punggung kuda akan duduk seorang gadis dengan posisi khusus, yaitu lutut kaki kanannya ditegakkan dan tangan kanannya ditopangkan di atas lututnya sambil memegang kipas. Kaki lainnya ditekuk ke belakang dengan lutut menghadap ke depan. Selain gadis, anak laki-laki dan remaja juga bisa menunggangi Saiyang Pattuddu. Saat rebana ditabuh, kuda akan menggoyang-goyangkan kepalanya, menghentak-hentakkan kakinya, dan sesekali mengangkat badannya ke udara. Suara gemerincing dari hiasan kuda serta hentakan kaki dan alunan rebana menambah kemeriahan tradisi.
Sumber: https://mandarnesia.com/saiyang-pattuqduq-warisan-budaya-nasional
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |