|
|
|
|
|
Tahu Sumedang adalah tahu goreng legendaris yang berasal dari Sumedang. Awalnya dikenal sebagai Tahu Bungkeng, tahu ini memiliki kulit renyah, aroma menggoda, dan rasa gurih. Tahu ini dihidangkan panas dan sering ditemani dengan cengek. Usaha Tahu Bungkeng di Jalan 11 April Nomor 53 masih mempertahankan ciri khasnya dengan langit-langit hitam karena asap, lantai berubin lawas, dan bau tahu goreng yang khas.
Kisah Tahu Sumedang bermula sekitar tahun 1900-an ketika Ong Ki No, seorang perantau Tionghoa, membuat tahu rumahan untuk istrinya yang mengidamkan tao-fu dari kampung halaman mereka di Tiongkok. Ia menggunakan kedelai lurik dari Conggeang dan air jernih mata air Sumedang. Tahu rebus putih awalnya hanya dibagikan saat hari raya. Setelah Ong Ki No dan istrinya kembali ke Tiongkok, anaknya, Ong Bung Keng, meneruskan usaha dan mencoba menggoreng tahu putih, yang menghasilkan tahu goreng Sumedang yang kita kenal sekarang. Pada tahun 1928, Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Sumedang, mencicipi tahu Bung Keng dan meramalkan kesuksesannya. Sejak saat itu, nama "Tahu Bungkeng" melekat pada tahu tersebut. Produksi awalnya terbatas sekitar 1.000 potong per hari dan dijajakan keliling pada akhir 1930-an. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat pribumi seperti Epen Oyib (pendiri Tahu Saribumi) mulai ikut berjualan tahu.
Bahan utama Tahu Sumedang adalah kedelai lurik, yang mirip telur puyuh, berasal dari Conggeang. Air yang digunakan berasal dari mata air jernih Sumedang, terutama dari kawasan Cimalaka hingga Tanjungsari. Tahu ini dibuat dengan proses pembuatan tahu putih yang kemudian digoreng hingga memiliki kulit renyah. Dalam proses produksi modern, mesin semi-otomatis dan bahan bakar solar/uap mulai diadopsi, namun tanpa menggunakan bahan pengawet untuk menjaga cita rasa.
Tahu Sumedang atau Tahu Bungkeng selalu disajikan saat panas, karena menurut penjaganya, "Tahu dingin? Bukan Tahu Bungkeng lagi namanya." Tahu ini biasa dinikmati ditemani cengek.
Usaha Tahu Bungkeng telah diteruskan hingga lima generasi. Dari Ong Ki No, ke Ong Bung Keng, lalu ke Ong Yu Kim, kemudian Suryadi (generasi keempat), dan kini ke anaknya (generasi kelima). Keluarga ini menekankan menjaga kualitas dan marwah keluarga di atas ekspansi besar-besaran. Produksi harian berkisar 3.000–5.000 potong, dan bisa mencapai 50.000 potong saat Lebaran. Warung pusat Tahu Bungkeng berlokasi di Jalan 11 April 53, dengan dua cabang di Jalan Mayor Abdurachman. Pelanggan utamanya rata-rata berusia 45 tahun ke atas, yang mencari oleh-oleh dan kenangan.
Sejarah Tahu Sumedang berawal dari kehadiran orang-orang Tionghoa yang menetap di wilayah Jawa Barat sejak akhir abad ke-19. Industri tahu di Sumedang dimulai oleh Ong Ki No, seorang pria Tionghoa yang tiba sekitar tahun 1900-an. Ia ingin membuat tao-fu, makanan khas Tiongkok, untuk istrinya yang sangat menyukainya. Setelah menemukan kebun kedelai di wilayah Conggeang, Ong Ki No mulai bereksperimen membuat tahu putih rebus menggunakan kedelai lokal dan air jernih dari mata air Sumedang. Tahu buatannya mulanya dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat pribumi saat hari raya, dengan respons yang positif. Namun, penjualan tahu putih rebus tidak mulus sehingga Ong Ki No dan istrinya memutuskan untuk pulang ke Tiongkok pada tahun 1917. Anaknya, Ong Bung Keng, melanjutkan usaha ini dengan mencoba menggoreng tahu putih, menghasilkan tahu goreng dengan kulit renyah dan rasa gurih yang berbeda. Sekitar tahun 1928, Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Sumedang, mencicipi tahu goreng Ong Bung Keng dan memujinya, yang kemudian dianggap sebagai doa dan turut mempopulerkan Tahu Sumedang. Nama Ong Bung Keng kemudian diabadikan menjadi merek dagang: Tahu Bungkeng. Pada era Orde Baru, industri tahu Sumedang melejit seiring pembangunan infrastruktur. Pada tahun 1979 tercatat ada 40 unit usaha, meningkat menjadi 92 unit pada tahun 1989. Krisis moneter tahun 1998 tidak terlalu menghantam industri tahu karena sektor ini adalah UMKM yang lebih resilien. Namun, pembangunan jalan tol Cisumdawu kini menimbulkan kekhawatiran karena memotong akses utama kota Sumedang.
Ong Ki No bereksperimen membuat tahu untuk konsumsi rumah tangga, yang awalnya berupa tahu putih rebus. Kemudian, Ong Bung Keng mengolah tahu putih rebus tersebut dengan cara menggorengnya, menghasilkan tahu goreng dengan kulit renyah dan aroma menggoda.
Sumber: https://www.ayobandung.id/ayo-jelajah/01785/07082025/jejak-warisan-ong-bung-keng-dalam-sejarah-kuliner-legendaris-tahu-sumedang, https://www.ayobandung.id/ayo-jelajah/01729/03082025/sejarah-tahu-sumedang-warisan-cita-rasa-tionghoa-hingga-era-cisumdawu
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Tahu Sumedang — Makanan Minuman, Sumedang · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |