|
|
|
|
|
|
Tari Bedayo Tulang Bawang Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Tari Bedayo Tulang Bawang muncul akibat adanya wabah penyakit cacar yang mematikan di Kampung Bujung Menggala, yang oleh masyarakat diyakini disebabkan oleh setan. Setelah berbagai upaya tidak berhasil, seorang bernama Menak Sakawira bertapa selama 9 hari di depan gundukan tanah berundak (tambak). Selama pertapaannya, Menak Sakawira mendapatkan wangsit untuk mengadakan upacara dan pemotongan kambing hitam yang diiringi dengan tarian sakral, yang kemudian dikenal sebagai Tari Bedayo Tulang Bawang.
Menak Sakawira bermusyawarah dengan sesepuh adat dan masyarakat setempat untuk menyelenggarakan pementasan tarian tersebut. Tarian ini dipentaskan oleh 12 wanita yang masih suci dan bersih secara spiritual, diiringi oleh Gamelan Klenongan. Tiga dari penari wanita bertugas membawakan sesajen di bagian depan formasi, sementara satu orang laki-laki bertugas sebagai pembawa payung. Pementasan dilakukan menghadap matahari terbit karena dipercaya sebagai sumber energi kehidupan. Setelah pementasan, masyarakat Kampung Bujung Menggala kembali sehat.
Kostum penari didominasi warna merah, yang melambangkan keberanian dan tanggung jawab, serta warna putih, yang melambangkan kesucian dan ketulusan dalam membawa persembahan dan berdoa kepada Tuhan.
Musik iringan tari ini disebut klenongan dengan tabuh Rajo Menggalo.
Tarian ini dibawakan oleh dua belas penari putri. Tiga di antaranya berada di posisi depan membawakan sesajen, dan satu penari putra bertugas membawa payung.
Tari Bedayo Tulang Bawang memiliki makna ketuhanan, khususnya yang disajikan oleh ketiga pembawa sesajen. Kesembilan penari di belakang melambangkan manusia dan kehidupannya, mewakili fungsi otak, mata, telinga, mulut, hidung, hati, syaraf, tangan, dan kaki. Sesajen memiliki makna simbolis: kemenyan bermakna agar manusia mengetahui asal-usul hidupnya, beras kuning melambangkan kesuburan dan keselamatan, sedangkan daun salah dan bunga bermakna kekuasaan Tuhan pada diri manusia serta pentingnya menjalankan ajaran kebenaran untuk pengampunan dosa. Inti dari tarian ini adalah sebagai persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Kini, tarian ini juga menjadi identitas Kabupaten Tulang Bawang dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Sumber: https://genpi.id/tari-bedayo-tulang-bawang-lampung
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |