|
|
|
|
|
Tari Bosara, ikon kesenian Suku Bugis dari Sulawesi Selatan, dinamai dari nampan khas Bugis yang disebut "Bosara". Nampan ini terbuat dari besi dengan satu kaki penyangga dan dilengkapi penutup bernama "pattongko". Awalnya, tarian ini diciptakan oleh seniman Andi Siti Nurhani Sapada dan berfungsi untuk menjamu tamu-tamu penting seperti dari kalangan kerajaan atau perayaan pernikahan. Seiring waktu, fungsi tarian bergeser menjadi pertunjukan pada acara pesta masyarakat dan acara-acara besar lainnya. Nampan "Bosara" ini biasanya diletakkan berjajar dan berisi aneka kue basah dan kering khas Bugis yang akan dimakan oleh para tamu setelah tarian selesai dipertunjukkan.
Pada awal kemunculannya, Tari Bosara adalah tarian kerajaan yang berfungsi sebagai penyambutan. Gerakannya yang indah dimaksudkan untuk memanjakan mata para tamu. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini tidak lagi terbatas untuk kalangan kerajaan dan telah menjadi tarian umum yang ditampilkan dalam berbagai acara besar, termasuk pesta pernikahan dan hajatan.
Para penari wanita Tari Bosara mengenakan busana adat khas Bugis yang dikenal sebagai Baju Bodo. Busana ini dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti hiasan rambut, gelang motif bunga, perhiasan, bando, dan anting. Properti utama yang digunakan adalah "Bosara" itu sendiri, sebuah nampan besi berkaki dengan penutup "pattongko", yang berisi aneka kue khas Bugis.
Masyarakat Bugis menampilkan tarian ini dengan iringan beberapa alat musik tradisional, yaitu gendang, kecapi, dan seruling, yang dimainkan dengan irama yang sudah ditentukan.
Meskipun Tari Bosara masih sering dipertunjukkan pada pesta pernikahan atau hajatan besar, jumlah pertunjukannya terus menurun. Fungsinya bergeser dari tarian penghormatan menjadi bagian dari hiburan. Untuk melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman, pemerintah setempat melakukan upaya melalui pendidikan di sekolah dan sanggar seni budaya.
Tari Bosara adalah pertunjukan yang melambangkan penghormatan masyarakat Bugis-Makassar dalam menyambut tamu. Tarian ini menyajikan hidangan dalam bosara sebagai simbol kehormatan dan menggambarkan nilai keramahan masyarakat Sulawesi Selatan.
Masyarakat Bugis-Makassar mengembangkan Tari Bosara sebagai bagian dari tradisi penyambutan tamu dalam struktur sosial adat. Sejarah mencatat bahwa tarian ini digunakan untuk menjamu raja dan tamu agung dalam acara kerajaan serta pesta adat. Budaya lokal menunjukkan bahwa Tari Bosara berasal dari kebiasaan masyarakat yang selalu menyajikan hidangan dalam bosara sebagai simbol kehormatan.
Tari Bosara memiliki pola gerakan yang terstruktur dan mengikuti irama musik tradisional. Gerakan tari mencakup gerakan tangan, kepala, badan, dan kaki yang selaras dengan musik pengiring. Penari perempuan membawakan Tari Bosara dengan jumlah ganjil sebagai bagian dari estetika pertunjukan.
Tari Bosara menggunakan properti utama berupa bosara yang berisi makanan tradisional, seperti kue cucur dan lapis. Bosara adalah piring khas Bugis yang terbuat dari besi dan dilengkapi penutup berwarna cerah. Busana penari menggunakan pakaian adat seperti Baju Bodo yang dihiasi aksesoris tradisional.
Musik pengiring menggunakan alat musik seperti gendang, suling, dan kecapi yang menciptakan suasana sakral.
Tari Bosara berfungsi sebagai tarian penyambutan dalam acara adat, pernikahan, dan kegiatan resmi. Pementasan Tari Bosara menunjukkan identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Properti bosara melambangkan wadah tradisional yang digunakan untuk menyajikan kue sebagai tanda penghormatan. Nilai budaya menunjukkan bahwa tamu dianggap sebagai sosok yang harus dihormati dalam tradisi Bugis-Makassar.
Pemerintah daerah mengembangkan pelestarian Tari Bosara melalui pendidikan budaya dan festival. Komunitas seni mengajarkan Tari Bosara kepada generasi muda melalui sanggar tari. Pelestarian budaya memastikan bahwa Tari Bosara tetap dikenal sebagai warisan budaya Indonesia.
Sumber: https://kataomed.com/budaya/makna-tari-bosara-dan-sejarahnya, https://negerikami.id/budaya/tari-bosara-sulawesi-selatan-sejarah-makna-fungsi-dan-keunikan-tarian-penyambutan-tamu-bugis-makassar-yang-sarat-nilai-budaya
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |