|
|
|
|
|
|
Sumbu Kosmologis Yogyakarta Dan Tengara Bersejarahnya Tanggal 31 Jul 2026 oleh Kyas1 . |
Sumbu Kosmologis Yogyakarta dan Tengara Bersejarahnya mencakup Kompleks Kraton (Istana) dan serangkaian tengara, monumen, dan ruang yang terhubung yang terletak di sepanjang sumbu selatan-utara sepanjang enam kilometer di pusat Yogyakarta. Properti ini merupakan kesaksian luar biasa tentang peradaban dan budaya Jawa, serta menunjukkan pertukaran penting antara berbagai sistem kepercayaan dan nilai-nilai. Orientasi sumbu dan penempatan tengara di sepanjang panjangnya dirancang untuk memanifestasikan dalam bentuk fisik pemikiran filosofis Jawa tentang kehidupan manusia, terutama siklus kehidupan (Sangkan Paraning Dumadi), kehidupan harmonis yang ideal (Hamemayu Hayuning Bawana), hubungan antara manusia dan Pencipta (Manunggaling Kawula Gusti), dan dunia mikrokosmos serta makrokosmos.
Markah tanah dihubungkan secara spasial, dalam desainnya, melalui ritual, dan oleh sistem manajemen tradisional Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikenal sebagai Tata Rakiting Wewangunan. Sumbu ini sejajar antara Gunung Merapi, yang dianggap sebagai tempat tinggal Roh Penjaga, dan Samudra Hindia, yang dianggap sebagai rumah Ratu Laut Selatan, tercermin dalam bentuk dan makna monumen paling utara dan paling selatan yang mendefinisikan sumbu. Lokasi Kraton dan kota dipilih oleh Sultan Mangkubumi pada tahun 1755 agar sesuai dengan kepercayaan kosmologis Jawa, di mana ibu kota Kerajaan dianggap sebagai miniatur alam semesta mengikuti konsep Hindu-Buddha tentang alam semesta fisik, metafisik, dan spiritual. Konsep-konsep ini mendahului properti itu sendiri, dibentuk melalui sejarah Jawa sejak sebelum abad ke-1 Masehi.
Sumbu ini telah berlanjut sejak saat itu sebagai pusat pemerintahan dan tradisi budaya Jawa. Sumbu merefleksikan pemikiran filosofis Jawa tentang kehidupan manusia, terutama siklus hidup (Sangkan Paraning Dumadi), kehidupan harmonis yang ideal (Hamemayu Hayuning Bawana), hubungan antara manusia dan Pencipta (Manunggaling Kawula Gusti), dan dunia mikrokosmos dan makrokosmos. Atribut properti ini meliputi praktik warisan budaya yang berkaitan dengan siklus hidup (kelahiran, pernikahan, dan kematian), penghormatan leluhur, penobatan, pemakaman, hari-hari Islam, hubungan dunia alami dan mikrokosmos makrokosmos, serta persembahan harian.
Sumber: http://whc.unesco.org/en/list/1671
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |